Tuesday, September 02, 2008

Milestone of Life

Saat aku gadis cilik berusia sepuluh tahun, pernah aku bertanya, seperti apa saat aku berusia duapuluh tahun? Cantikkah? Populerkah?

Saat aku mahasiswa berumur duapuluh tahun, pernah aku bertanya seperti apakah saat aku berumur tigapuluh tahun? Sukseskah? Bahagiakah?

Saat aku menjadi Bunda beranak satu di umur tigapuluh tahun, aku bertanya..Akankah sampai aku mencapai empatpuluh tahun? Sehatkan? Panjang Umurkah?

Itu betul. Dan aku hampir tiba pada jawaban pertanyaan terakhir.

Walau diusiaku kini, ada yang bilang jiwa-ku seperti gadis 17 tahun, penampilanku kayak perempuan 30 tahun, tapi KTP nggak bisa membohongi kenyataan akan usiaku yang nyaris 40 tahun ini.

Kedewasaan tidak bisa diukur dari umur, karena banyak dipengaruhi pengalaman panjang yang diberikan kehidupan, dan setiap orang berbeda menjalaninya. Kedewasaan tidak bisa diliat dari sikap karena lebih banyak ditentukan oleh cara berpikir, dan setiap orang berbeda melatihnya.

Ulang tahun penting buatku, karena jadi milestone perjalanan hidupku. Pasang Surut. Manis Getir. Hujan Panas silih berganti. Datang dan pergi. Menempa Jalan Kehidupanku. Ulang tahun menjadi tolok ukur dan pembanding. Lebih baikkah aku dibanding tahun lalu, dan tahun lalu. Secara apa? Kedewasaan berpikir? Control Emosi? Tanggung Jawab? Iman dan Taqwa?

Ulang tahun jadi istimewa buatku, karena pada hari itu, banyak keluarga dan teman bersama sama mendoakan kebahagiaan untukku. Thanks so much, thank you very much.

Sunday, August 31, 2008

Si Mumun Terong

“sini aja Bu..muat kok” begitu kata petugas parkir di citos.
Dengan sigap aku segera menyelipkan Karimun-ku yang imut ditempat sempit yang ditunjuknya. Cihui!! Thats why I love this car so much. Mungil, imut, tangguh, nggak rewel, dan enaknya… gampang parkir.

Sudah 3 tahun si mumun terong-ku, begitu nama mobil karimun berwarna ungu milikku, menemani kegiatanku yang seabreg. Kuliah malam, nganter klien, hangout ma teman, belanja bulanan, shopping ke Mall, ke dokter dan rekreasi ma anak anak, pergi pulang kantor dam juga antar jemput sekolah anak.

Sudah banyak suka duka dilakoni bareng. Menembus banjir besar Jakarta. Menjalanin kemacetan dimana mana. Kunci tertinggal di dalam mobil saat di parkir kebayoran. Ujug ujug ogah distater di Kelapa gading Mall, adalah bagian dari kebersamaan kami. Juga menyerempet pagar, tiang bendera, mobil oranglain. Dicium taxi, motor dan angkot. Belum lagi beberapa kali ditilang bapak polisi berkumis baplang. Hih? Trully, I’m a terrible driver.

Sebetulnya gue masih cinta sama si mumun terong ini, tapi anak anak udah gerah dan bosan. Jadilah minggu lalu, mumpung ada yang naksir dan ternyata serius, si mumun terong dilipat, berpindah tangan ke pemilik baru. Aku cuma bisa bilang, Hiks.

Mengingat dirinya, membuatku tersenyum. Si Mumun bukan cuma mobil buatku, tapi sudah seperti lemari berjalan untukku, karena aku menyimpan banyak hal disitu, bukan cuma dongkrak dan ban serep, tapi bahan bahan dan buku kuliah yang segede bantal, berpasang sepatu kantor dan selop untuk hangout, majalah, koran, sampai dengan (maaf) softex…dan juga banyak kenangan.

Ah, dia sudah seperti seorang assisten pribadiku yang selalu menemaniku kemana saja. Tak peduli hujan, terik, malam, siang, jauh, dekat. pelan pelan ato ngebut, dia selalu setia setiap saat, Menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diriku, karenanya juga banyak disebut diblog ini

Aih, sudahlah. Setiap barang, ada masanya. Sebagaimana pada akhirnya aku harus melepas Taruna pertamaku, Hyundai mobil keduaku, kali ini aku harus merelakan si Mumun Terong pergi. Walaupun, hiks juga siiih…

Betul, naik mobil Ayah emang lebih nyaman, tapi setiap melihat Karimun lewat. Hiks, aku ingat mumun terong-ku..

Saturday, August 30, 2008

Jiwa Matahari

Yellow is my fave. Sun flower is my inspiration.
Halah! Kuning begitu? Dangdut banget…

Walau tiap tahun trend warna berubah. Koleksi warna unggulan bergeser. Mempengaruhi pilihan warna di industri dan pasar, bukan cuma cat kuku dan makeup tapi juga cat rumah dan mobil, namun kuning tetap abadi, menghuni sedikit tempat dihatiku.

Konon orange mewakili kata bahagia, sedang kuning adalah representasi dari kata cemburu, sebagaimana merah untuk marah, putih untuk suci, biru untuk laut, hijau untuk hutan dan ungu untuk janda, Hush!! Namun aku tak perduli

Bagiku, Kuning adalah untuk Matahari. Aku mencintai Matahari, sebab Matahari mencintaiku. Bisa kuingat kenangan akan masa mudaku, matahari pagi adalah pemberi semangat pergi sekolah. Matahari siang adalah teman bermain dan bersenang senang, sedang matahari senja adalah hiburan yang Indah.

Melihat Pelangi, Aku ingat Matahari yang sinarnya membiaskan Indah pelangi.Menatap Bulan, Aku ingat Matahari yang cahayanya menemani tidur sang Bumi.

Matahari Mencintaiku, dan aku mencintai Matahari.
Walau kusadari Matahari tak butuh itu. Matahari hanya tau memberi. Matahari hanya tau mencintai, tak berharap Pelangi berterimakasih, tak meminta Bulan membalas cintanya.

Ingin kumiliki Jiwa Matahari.
Hangat bersemangat dipagi hari. Riang menyenangkan disiang hari. Menebar senyum terindah yang menghibur disore hari. Tulus memberi tanpa berharap kembali.

Kutau pasti, itu tak mudah sayang. Karenanya, saat hujan datang dihati. Saat gerhana memeluk diri . Aku rindu Matahari.

Thursday, August 28, 2008

Happy is my Right.

Prolog: Saat Raker nasional bulan Maret lalu, NSM di kantor memberiku mouse pad dari merchandise motivator terkenal Adiwongso, text yang tertulis di mouse pad berwarna hitam itu adalah : Success is My Right.

Adalah Verra, seorang junior di kantor yang mengingatkan aku tentang satu hal lain, Happy is my Right. Verra yang selalu take it easy, senyam senyum, nyanyi-nyanyi, becanda dan guyon bahkan disaat yang menurutku tidaklah tepat untuk itu. Banyak sudah teguran, kecaman yang terlontar dari bibirku yang tipis sinis untuk sikapnya. Padahal kalo dipikir, dia satu satunya hiburan diantara team Brand yang jarang senyum dan most of the time bertampang masam, tepatnya seperti diriku.

Ditengah banyak hal yang bikin sakit kepala. Banyak urusan kantor yang bikin sesak didada. Senyum jadi hal yang mahal buatku. Bahagia jadi hal yang tak terpikirkan lagi. Sampai dengan Verra mengingatkan “ Happy is my right”, and that’s encourage me to strict on my decision to resign.

I try hard to enjoy my job, I love my career, I like the challenge, but somehow the reality not running as good as we plan, and drug me down. De-motivated. Frustrated. Whatever it call, and Verra remind me to the new thought “ Happy is my right”. So, daripada depresi berkepanjangan, aku memutuskan untuk quit. Bagaimanapun, aku berhak untuk bahagia.

“Mbak Bahagia? “ tanya Verra, disatu kesempatan makan malem bareng, setelah aku memutuskan resign.
Aku terdiam panjang sebelum menjawab “ Gue bahagia karena gue berusaha bersyukur”
“Kenapa Mbak terlihat ragu? Kakak Iparku selalu menjawab spontan . aku bahagia!!”

Pandanganku menerawang jauh sebelum menjawab “Pastinya kakak iparmu lebih pandai bersukur dibanding gue, Banyak hal dalam hidup ini berjalan tidak seperti yang gue mau, kalo inget itu sedih juga sih. Tapi sungguh terlalu kalo gue tidak bersyukur dengan apa yang gue masih punya sekarang. Dan gue bahagia untuk itu..

Happy is my right. Happy is everybody right. Makanya disaat seorang Verra yang selalu ceria merasa terpuruk. Giliranku untuk mengingatkannya, selain urusan pekerjaan-banyak hal didunia ini yang patut disyukuri, keluarga, kesehatan, dan kehidupan itu sendiri, yang insya-Allah bisa menyadarkan diri bahwa sesungguhnya kita bisa merasa bahagia dengan apa yang kita punya kini.

Bahagia, tidak ditentukan oleh orang lain, begitu kata seorang sahabat. Kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Well ya, thanks for sharing with me. At least sekarang aku bisa lebih bersyukur punya beberapa sahabat, dan segudang teman yang selalu saling mengingatkan tentang hakikat kebahagiaan, Alhamdulillah.

Monday, August 11, 2008

Keep Your Dream Alive

Prolog : Gue check diblog gue ini, kalo gue nulis tentang Erfan, pasti soal reuni, kopidarat, bubar bareng. Hih, basi ya? Kali ini pengin nulis sesuatu yang lain ah..

“Oleh oleh itu bukan soal apa dan berapa harganya, tapi soal Ingetnya” begitu kata Erfan, tiga tahun lalu saat memberiku oleh oleh sepotong kaos dari Amrik. Aku mengangguk cepat.. Setuju!! Makanya aku tak lupa memberinya coklat sepulangku dari Singapore.

Makanya terselip rasa senang dihati saat bulan lalu kuterima sms dari Erfan “ Udah jam makan siang ya? Disini masih pagi.. pemandangannya bagus..kayak di film Robinhood” . Begitu kurang lebih isi sms yang dikirim Erfan dari UK. Ugh!! Aku membalas dengan setitik rasa cemburu, hih rasanya gue deh yang pengin jalan jalan liat Eropa. Apalagi musim Spring menjelang Summer begini, pasti lagi cantik cantiknya, uuuhmm…bikin sirik aja deeh !!

Erfan tau mimpiku itu. Mungkin itulah yang membuatnya ingat diriku, walau dia berada jauuuuh di London sana. Membuatnya mengetik sms di satu pagi sepi yang kubaca sambil nyengir di siang hari panas terik Jakarta. Sedikit besar kepala. eh? dia inget gue lho. Padahal gue yakin dia sibuk dengan jadwal bisnis trip-nya yang padat.

Walau kami bertetangga- lokasi kantor maksudnya,-karena sama sama sok sibuk, baru minggu lalu kita bisa ketemu buat makan siang bareng. Ngobrol sih nggak jauh dari urusan kerjaan, jualan, target. Omset. Sales dan renik reniknya. Bedanya Erfan di B2B industry, sedang aku di B2C. tapi tetep asik ajah tuh

Berangkat dijemput, makan siang ditraktir, balik kantor dianter, waaah enak betul? Udah gitu masih dikasih oleh oleh dari UK lagi. Sebuah hiasan dinding kecil, berisi relief London bridge. Bagus. Aku memasangnya didinding rumah, dan mematri pesan Erfan dikepalaku “Keep Your Dream Alive”.

Aku menghela nafas panjaaaang. Berusaha melepaskan semua sumpek, segala perih, banyak sedih, tentang kondisi karirku saat ini. Namun ah, sudahlah, masih banyak hal yang harus disyukuri, antara lain tentang kupunya seorang teman seperti Erfan.

Thanks so much, Fan. Doakan saja, aku diberikan kelebihan rejeki dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu. Well, Smoga sukses selalu menyertai perjalanan karir, kita semua.

Tuesday, August 05, 2008

Teladan Sebuah Potret Kehidupan

Dalam perjalan ke kantor Radiodalam, hampir setiap pagi aku melewati kawasan elite Pondok Indah. Ada satu pemandangan yang mengusik hatiku. Didekat PIM2, sebelum bengkel Suzuki, menjelang Wisma pondok Indah, aku sering melihat sepasang bapak dan Ibu tua duduk menunggui sebuah gerobak. Apa Isinya? Beberapa Papan cucian. Disitu ada signage : dijual papan cucian

Hari gene jual papan cucian? Di kawasan exclusive Pondok Indah pula. Siapa yang mau beli? Pasti itu yang terlintas dalam pikiran semua orang. Yang aku kagum bapak dan Ibu tua itu tetap telaten menunggui gerobak dagangannya, mananti rejeki Allah datang bersama terjualnya papan cucian itu.

Aku miris. Berapa pendapatan mereka? Pastinya tak seberapa. Tapi aku merasa mereka pasti ulet, mereka sabar dan tabah. Percaya, bahwa berapapun itu, Rejeki adalah urusan Allah


Seharusnya aku mencontoh, aku percaya aku yakin hal yang sama saat memutuskan untuk resign akhir bulan ini. Walau banyak suara suara menyayangkan, menyesalkan, mengangapku emosional, tanpa perhitungan, tidak berpikir strategies, meninggalkan posisi senior manager begitu saja, tanpa perduli kelanjutan karirku berikutnya

Gamangkah aku? tentu saja. Dengan usia yang tak lagi muda. Dengan ketatnya persaingan di dunia kerja. Dengan standard salary yang biasa kuperoleh kini. Mencari pekerjaan baru, bukan hal yang mudah.

Cemaskah aku? Ya iyalah…walau kutahu seharusnya tidak. Seharusnya aku meneladani potret kehidupan yang kulihat pagi hari di satu sudut pondok indah. Seharusnya aku yakin, seharusnya aku percaya bahwa urusan rejeki ada ditangan Allah.

Seperti halnya rahasia besar Allah tentang Jodoh dan Mati, seharusnya aku percaya Allah punya rencana rejeki lain untukku. Seharusnya aku yakin semua ini yang terbaik untukku. Aku berusaha yakin, aku berusaha percaya. Smoga Bapakku, begitu juga.

Aku berusaha menepiskan rasa gusar dan cemas, bersama semangat hari baru yang diberikan matahari pagi yang mengintip dalam kaca jendela mobilku.

Friday, July 11, 2008

Happy Birthday, Honey..

“Lu kayaknya kena kutuk deh” Kata cowo disebelahku, saat kami bertiga menonton BKST-Bengkel Kreasi Seni Teknik di kampus depok, nyaris dua puluh tahun yang lalu

“Kenapa?” tanyaku innocent

“Soalnya lu mau jadi cewe-nya Eddy” begitu kata Sauqi, cowo yang duduk disebelahku tadi. Kami bertiga terbahak. Aku-Eddy dan Sauqi yang merupakan sahabat Eddy saat kuliah di FTUI

Sungguh, sampe sekarangpun gue ngga habis pikir, kenapa gue bisa termehek mehek pada cowok dekil tengil belagu anak FTUI itu. Kayaknya Sauqi benar, gue kenak kutuk #halah# buktinya aku dan Eddy kini menikah dan telah mengarungi hampir limabelas tahun hidup bersama.

Bergulirnya sang waktu menjadi saksi banyak perubahan, walau tak lagi dekil, namun ayah tetap belagu dan tengil, Ups!! diusia yang empat puluh tiga tahun ini, Ayah tak pernah merasa tua dan tetap semangat, menjalani banyak hal yang diberikan kehidupan.

Happy Birthday, Honey,
Wish you all the best..
We love you!!

"Gue nggak suka dipangggil Honey" protes Ayah
"Kenapa?" Everything should have a reason, I think
"Kayak perempuan!!" serunya lagi
Aku terbahak. Whatever you say, Honey...


Saturday, June 21, 2008

Kenangan Dalam Sepasang Sepatu.

Judul tadi plesetan dari resensi film sex in the city yang dimuat di Kompas minggu lalu “Cinta dalam Sepasang Manolo”. Memang aku tak pernah punya Manolo Blahnik yang katanya “better than sex”, tapi membaca resensi film itu membuatku teringat banyak sepatu yang pernah menemaniku mengarungi jalan kehidupan.

Dimulai dari jaman Imut SMP. Aku punya sebuah sepatu berjudul apple pie. Itu sepatu kets ringan, berbahan kanvas dan tipis yang punya dua warna centil dan ceria. Dan aku prefer kombinasi, Putih dan…you know what?? Kuning!! Yup. Sunshine was my inspiration and yellow was my fave. Dangdutkan? Uhm, entahlah, aku tak ingat. Tapi sepatu kuning itu adalah yang paling berkesan menemaniku mengejar bis kota, ikutan baris berbaris. Latihan pramuka dan senam pagi bareng di taman gajah cipete.

Begitu SMA, nyaris semua teman punya sepatu branded. Aku bersekolah di satu SMA negri di kebayoran yang warganya cukup borju. Tidak cukup cantik dan pintar untuk bisa terkenal disini, sebab segudang cewe cantik dan pintar bersekolah disini. How about my Shoes? Aku Cuma ingat dua, dan sayangnya rasanya emang Cuma dua sepatu itu yang menemaniku selama 3 tahun di SMA.

Kelas satu aku punya sepatu Diadora coklat muda bertali yang tingginya sampai ke mata kaki. Saat itu aku berpikir, oh? ternyata emang nyaman ya kalo pake sepatu mahal, sebab kutau Diadora coklat muda itu sebetulnya diatas kemampuan kocek Bapakku. Bapak tidak ingin aku minder di sekolah, cuma gara gara urusan sepatu. Sepatu itu bertahan dua tahun, sebelum jadi belel dan digusur oleh sebuah sepatu kets Nike warna putih dengan logo biru NIKE disampingnya, yang mengantarkanku lulus SMA.

Kuliah di Bogor. Satu hal yang di complain teman teman, kok lu kalo pake sepatu diinjek? He..he..ember..aku nggak suka pake kets saat kuliah. Ribet dengan tali talinya itu. Jadi aku punya beberapa sepatu casual yang datar, ringan dan bisa diinjek dibelakangnya. Aku prefer yang berbahan kanvas dibanding dengan yang kulit imitasi. Aku punya beberapa, putih, coklat, biru, but one of my favorite adalah sepasang sepatu hitam casual yang unik.

Sepatu itu aku beli di bogor, lupa dimana persisnya, Sepatu itu lucu, sebab dia punya aksen yang berbeda. Disebelah kanan merah, disebelah kiri hijau. Aku paling suka pake sepatu itu, saat dipadukan dengan rok panjang berbungga kuning (Halah!! yellow again??) dan T-shirt hitam yang polos didepan dan bergambar di punggung. Rasanya cihui banget, seakan udah paling keren satu kelas..

Saat sahabat sahabatku, Evelyn dan Watiek punya sepatu kembar, seakan untuk meneriakkan diri “we’re best friend”, aku cuma nyengir dan menggeleng. Budgetku terbatas. Preferenceku berbeda. jadi walau aku tidak punya sepatu yang kembar denga mereka, kami bertiga ditambah Dewi, tetap bisa tertawa, Ngerumpi, Ngerujak, Jalan jalan, makan-makan dan nginep bareng, berempat!! Suatu perwujudan nyata dari proklamasi yang tak perlu terucap, We’re best friends!!

Begitu mulai menapaki perjalanan Karier, Lebih banyak koleksi sepatu menemani hari hariku. Aku lebih punya budget. Aku lebih punya perhatian pada urusan fashionista. Banyak sepatu yang berkesan untukku. Bukan cuma sepatu hitam, yang merupakan peningsetan saat menikah dengan Ayah, yang kupakai sampai lusuh, lelah dan bosan. Masih banyak sepatu yang membuatku tersenyum mengingatnya.

Aku penah punya sepatu yang cantik. Model Pantofel dengan hak tinggi favorite ku. Hitam berpita.Sayang, baru dipake beberapa kali pita sepatuku hilang satu. Lemnya lepas. Udah dicari kemana ajah. Nggak ketemu. Hah!! Dengan rasa menyesal yang menyesakkan dada, terpaksa sepatu itu digudangkan.

Sepatu lain yang berkesan adalah sepasang Boot hitam. I love that shoes so much. Sebab praktis. Ngga ribet. Dan nyaman. Memang tidak feminim, makanya sering aku pakai bersama blus pendek dan sebuah rompi. Yang sangat pas untuk hari hari sibuk dan melelahkan menjelang budget tahunan meeting. Kalo lagi pengin “gaya” sepatu itu aku pake bersama rok panjang biru tua (untung kali ini ngga kuning), dengan atasan gelap berlengan pendek dan kalung panjang, Udah deh, siap untuk tebar pesona, meeting di luar kantor. Psst, aku ingat, sepatu itu juga jadi andalanku saat aku ada workshop di Singapore, dan ikut mengantarku menyusuri orchard road yang menawarkan surga berbelanja.

Aku tidak pendek dan tidak tinggi, tidak langsing dan tidak gendut, makanya aku suka pake high heels,. Tapi ini yang membuat dokter kandunganku mengamuk, aku nyaris keguguran gara gara hamil muda tapi masih pake sepatu berhak. Sebuah sepatu sandal, bertali, tipis, trepes datar, dan jujur saja, elek pisan-menurutku, menemani kehamilan keduaku, sambil tetap sibuk mempersiapkan promosi, bikin proposal , koordinasi, meeting dan presentasi . Meski jelek, sepatu itu telah banyak sekali berjasa menjaga kehamilanku.

Walau adikku yang cantik, apik dan modis, memuji perubahan penampilanku yang drastis disbanding saat kuliah. Tetap saja aku suka matigaya dibanding teman teman sekantorku. Makanya satu hari di awal September, saat aku ulang tahun, mereka memberiku, sebuah stiletto Linea Pelle coklat yang berhak runcing dan tinggi. Aduh? Ngeri kali pakenya. Asistenku bilang “ Bubin, nggak akan pake. Dia nggak akan suka”. Tapi demi rasa terimakasih kepada mereka, aku pake stiletto itu ke kantor dihari jumat. Tidak nyaman memang, uggh, tampil gaya memang butuh pengorbanan you know.

How about now? Dari banyak koleksi sepatu, stiletto, selop, sandal yang kupunya. Aku paling suka my Peach Ever Best shoes, Sepatu pantofel berpita samping, berhak tinggi dengan warna feminim yang unik. Aku suka pakai saat harus presentasi di kampus maupun di kantor, Memberikan kesan professional yang tidak selalu harus hitam. plain dan membosankan. Sepatu itu nyaman, dan seakan bisa menyelipkan sugesti, bahwa semua akan baik baik saja. Eh? Kayak Jimat kali Ya??

So? Lets put your favorite shoes on…Manolo Blahnik, Guess, Sammy choo, Vinci, Hush Puppies, Wimo, Marie Claire, Yongki, Edward Forrer, whatever itu..trus nonton bareng Sex and the City yuks! Can’t wait to see you on theater then…