Sunday, May 28, 2006

Tentang Perempuan Bersahaja

Prolog :
Dua belas tahun menikah dan punya 25 nama yang pernah menjadi “assisten”di rumah kami, bukan lah record yang mengesankan. Mereka terdiri dari 5 Baby sitter, 2 supir, 12 pembantu dan 6 tukang cuci.

Paling crusial adalah baby sitter, Jika Iqbal bertahan 2 tahun dengan seorang Mbak Ida yang anak gaul, Sejak lahir Aim sering berganti babysitter dari mulai dari Mini yang cerewet, Watiek yang perfectsionis ,Isti (adik watiek) yang sayang anak-anak,Sumi yang pacaran mulu, Lili yang penakut dan sekarang back to Isti, yang merupakan favorit Aim dan sudah 3 tahun ini jadi tangan kanan Bunda di rumah.

Gimana soal pembantu ? Wah, its a long story to tell. Mulai dari si Yati yang genit, Mbak yang dari salatiga, Kus yang misterius, Ani yang sakit-sakitan, Yuni yang suka bingung, Tuti yang lebih pantes jadi model catwalk, Sri yang super rajin dan cekatan, Inah yang baikhati, Inah yang cantik kayak bintang sinetron, Nia (adik Inah) yang bandel, Dinah yang pinter masak, dan yang sekarang Leha yang penurut.


Banyak formasi teamwork dicoba. Mbak Ida & Mpok jangkung bertahan cukup lama, Watiek & Ani-hanya Watiek yang awet, Anto-Tutie-Watiek-cuma bertahan setahun, Isti-Nia-Pak Jumhur-nggak saling cocok. Penuh conflik.

Banyak cerita. Beragam suka dan duka dilalui bersama, berikut sedikit kisah mereka.

1. Mbak Kus yang misterius.

Perempuan ini pembantu kami yang ketiga. Namanya Kus, berumur 23 tahun saat datang ke rumah. Ketika itu aku baru 26 tahun, dua tahun menikah, dan sedang hamil tua, anak pertama. "Jangan panggil Ibu, panggil Mbak saja” kataku. Dia hanya mengangguk. Sedang kepada suamiku dia memanggil "Pak Eddy" dengan hormat.

Tidak seperti kebanyakan pembantu yang tukang gossip dan genit. Kus ini sangat pendiam. Hanya saja ada satu hal yang membuatku heran. Dia sangat ketus terhadap laki-laki. Tukang sayur, Tukang koran, Sopir kantor Ayah, tidak pernah diladeni ngobrol . Tak ada sepotong keramah-tamahan pun pada kaum laki-laki.

Iqbal lahir. Sejak itu hari-hariku penuh kesibukan mengurus bayi kecil itu. Kus membereskan segala urusan rumah tangga. Sedang aku membereskan urusan Iqbal. Aku tidak pernah mempercayakan Kus-yang menurutku belum berpengalaman-untuk merawat Iqbal. Karena nya bayi Iqbal selalu kubawa kemana pun aku pergi, dari ke resepsi perkawinan sampai shopping ke Mall. Mbak Kus yang pendiam dan misterius lebih senang tinggal dirumah.

Sampai akhirnya teka-teki itu terbuka.Telp berdering saat Iqbal tidur.
Kus sedang pergi ke supermarket dekat rumah.
" Ada Mbak Kus, Bu ?'
" Sedang pergi, dari mana ?"
"dari adik iparnya" aku terkejut
"Adik ipar ? maksud Mbak gimana ? tanyaku tak mengerti
Perempuan diseberang sana terdengar bingung
"Emang Kus sudah menikah ? desakku
"Lho masa Ibu gak tau? Dia sudah punya anak umur 8 tahun. Sudah SD"
Aku kembali terkejut. 8 tahun ? umur berapa dia menikah ?
" Tolong bilang saja Bu. Adik iparnya menelpon"
" Oh Ya." Kataku masih saja termangu.

Tanpa Bunda desak, Kus sedikit-demi sedikit mau berbagi pengalaman hidupnya yang pahit. Dia kawin muda. 15 tahun. Anaknya satu - laki-laki. Bunda menelan Ludah...ih selama ini Bunda selalu underestime jika dia hendak menolongku merawat Iqbal...padahal...dia justru lebih berpengalaman.

Suaminya tukang mabuk. Tak cukup hanya itu. Suaminya ternyata kawin lagi. Kus tidak tahan. Dia lari ke Jakarta. Menjadi PRT pun dilakoninya. Padahal di kampung dia punya orangtua yang berkecukupan. Menjadi pembantu tentu bukan pilihan yang menyenangkan. Terjawab sudah. Mengapa dia begitu judes terhadap laki-laki.

Tiga kali lebaran berlalu dengan damai sampai suatu saat Kus meminta berhenti kerja. Anaknya dikampung membutuhkannya. Dia pulang meninggalkan kursus menjahitnya yang belum tamat.


2. Mbak Ida yang Gaul
Perempuan berikutnya cukup terdidik. Seorang gadis tamat SLTA. Mungil dan berparas cukup manis. Saat datang kerumah dia memakai seragam suster dari tempatnya mengikuti pendidikan baby sitter. Dihari pertama dia masih sering melihat buku catatannya, Hm anak baru lulus. Masih teoritis.

Melihat koleksi bajunya, Ayah agak Heran. "kamu biasanya pake Jilbab ?" Ida menganguk takut. “Ya udah gak usah pake seragamnya. Pake aja jilbabnya.”
Ada kelegaan di wajah si Ida.

Ida masih terlalu muda untuk menjadi baby sitter. Kelakuannya masih ABG banget !! Dia lebih pantas jadi teman bermain dan bertengkar Iqbal dibandingkan jadi pengasuhnya. Nonton teve saja mereka berebut remote control. Hari-hari liburnya penuh dengan obrolan di telp dan janji untuk bertemu di mall. Walau berjilbab, dia tetap berpenampilan modis dan trendy, lengkap dengan sepatu berhak tebal yang sedang in saat itu.

Kali ini Bunda yang sering uring-uringan. Bunda yan terbiasa cekatan frustasi terhadap Ida yang lelet dan bolot. "Duh....masa tamat SMA bolot gitu sih ? keluh Bunda
"Jangan berharap banyak. Kalo dia cerdas mana mau jadi babysitter” Ayah lebih banyak maklum. Bunda masih saja cemberut.
“Kalo dia pinter pasti pilih kuliah di IPB, lulus Sangat memuaskan dan jadi marketing manager" kata Ayah mengoda Bunda.
"Nyindir ?" kata bunda sebal !!

Keluarga Ida di cirebon bukan orang miskin. Menjadi babysiiter bukanlah pilihan hidupnya. Dengan keterbatasan kepandaian, sempitnya kesempatan bekerja. Baginya tak ada banyak pilihan.

3. Mak Ani yang Malang.

Perempuan selanjutnya adalah gadis belia, 20 tahun. Sebut saja Ani. Kami menjemputnya dari sebuah yayasan penyalur Pekerja Rumah Tangga (PRT). Pengurus yayasan sudah membekali kami dengan backgroud cerita yang membuat kami miris.

Ani berasal dari Subang, keluarganya miskin sekali. Jika sedang cape menjadi PRT dia pulang ke rumah untuk beristirahat, tapi Bapaknya selalu menyuruhnya berangkat bekerja lagi.
Padahal Ani tidak memiliki fisik yang prima untuk bekerja keras. Dia sering sakit-sakitan.
Hidup dalam kemiskinan dan hanya tamat SD membuatnya tak banyak punya pilihan.

Dia sering cemburu dengan Watiek –Babby sitter Aim- yang tamat SMP, mempunyai ketrampilan dan pengalaman panjang merawat bayi, dan -tentu saja- gaji yang lebih besar. Bunda berusaha adil dengan memberikan Ani hak libur 2 hari dalam sebulan, bergantian dengan Watiek, tapi tetap saja hal itu tidak banyak menolong. Dia tidak bertahan lama, hanya 3 bulan.


Epilog.

Begitu banyak nama perempuan yang pernah menjadi bagian dalam keluarga Ayah dan Bunda. Silih Berganti. Satu hal yang pasti. Mereka adalah perempuan perempuan bersahaja dan sederhana, yang tersingkir oleh kerasnya kehidupan. Dengan banyak keterbatasan, kepandaian, kemiskinan,ketrampilan, mereka tak punya kesempatan kerja yang lebih baik.
Tapi paling tidak , menjadi pembantu atau babbysitter adalah pilihan yang lebih mulia dibanding mengemis, or even melacur.

Masih banyak perempuan-perempuan diluar sana yang bernasib sama, dan merekalah salah satu faktor pendukung suksesnya banyak Wanita Karir, Business Women atau Artis Celebrity. Tanpa bantuan mereka mana mungkin bisa meninggalkan anak2 dirumah untuk meeting penting, perjalanan dinas, market survey ke luar negri, atau bahkan shooting sinetron. Hanya saja masih sedikit sekali penghargaan terhadap perempuan-perempuan bersahaja itu.

No comments: