Friday, February 02, 2007

Mabit di Muzdalifah (1) Kedinginan dalam Kebisuan panjang

Pukul delapan kami tiba di muzdalifah. Dengan menjinjing travel bag dan botol air minum aku dan Ayah mencari tempat duduk diantara banyak orang yang sudah lebih dulu tiba disana. Ayah sendiri sibuk membawa travel bagnya dan sebuah ransel tempat makanan kecil kami.

Muzdalifah adalah sebuah padang yang luas. Kalopun ada bangunan dan listrik, cuma toilet umum yang antriannya begitu panjang. Masa masa haji terdahulu mabit di muzdalifah dilakukan di dalam bis. Menurut teman yang pernah berhaji tahun 90-an saat itu terjadi kemacetan bis yang luar biasa di padang muzdalifah. "Ampe hopeless, kapan sampai mina nih?" begitu kata teman itu.

Sudah beberapa tahun terakhir diatur system bis taradudi untuk para jamaah. Maksudnya jamaah secara bertahap di jemput dari tenda di Arafah. Di drop di muzdalifah beserta seluruh bawaan mereka . Bayangkan, padahal ada yang bawa ember cucian segala lho!! Makanya, semakin praktis bawaan, semakin baik deh. Dari Muzdalifah bus kembali menjemput jamaah lain dari arafah. Jadi rute bisnya Arafah-Muzdalifah pp.

Mulai pukul 12 bis menjemput kembali jamaah yang datang awal ke muzdalifah -seperti kami jam delapan terhitung awal-untuk diantar ke Mina. Setelah lewat tengah malam, rute bis menjadi Musdalifah-Mina pp. Dengan system ini walau bis yang diprovide terbatas diharapkan bisa effective dan efficient, tidak terlalu memacetkan jalan.

Saat itu kami masih dalam kondisi ihram.. Ayah masih memakai kain ihram yang hanya terdiri dari dua lembar kain tak berjahit.. So? whats the problem ?? The problem is padang muzdalifah sangat berangin dan dingiiiiiin sekali. Aku yang berpakaian lengkap ajah mengigil kedinginan. Duh, bagaimana dengan ayah ??

Kami membongkar travel bag, mengelar sajadah. Ayah kuminta berbaring supaya nggak terlalu terkena angin “Sini honey.. tiduran dibelakang pak Somad…”


Kuliat dari jauh seorang teman sekamar mengeluarkan payung, sejak di Mekkah dia memang menyuruh kami membawa payung.

Lho buat apa ?? oh rupanya bukan buat berlindung dari panas matahari , tapi buat ditaruh disamping untuk menahan hembusan angin. Aku mengikutinya. Aku meletakan payung itu disisi luar badan ayah yang berbaring, supaya paling tidak sebagian badan ayah ikut terlindungi dari angin. Kemudian aku meringkuk dibalik payung itu. Duduk sambil memeluk lutut. Tetep dingin!! Tapi Alhamdulillah lumayan- masih lebih mending dibanding tanpa payung.

Its like in the freezer ya..” kata suami temanku yang pertama mengelar payung. Aku tersenyum kecut. Well entahlah, yang jelas aku nggak pernah mengigil kedingan sampai seperti saat ini.

Satu demi satu jamur payung bermunculan. Oh, rupanya banyak yang mengikuti ide temanku tadi. Bapak kepala kloter kami mendekat ke arah kami duduk, sambil berjalan jalan beliau mengajak ngobrol kami sekilas “waaah kalo ada yang jual wedang ronde laku ini yaaa..” teman teman menimpali guyon beliau“saya pesan empat pak …” Aku speechless. Brrr. Kedinginan !!

Berikutnya dengan serius pak kepala kloter bilang “Nanti jam 11.30 bersiap ya.. kalo KBIH kloter kita udah masuk jalur antrian gerbang mahtab no 7, dibelakangnya langsung Bapak dan Ibu haji mandiri ikut antri, supaya kloter kita nggak kepecah..” Kami mengiyakan.

Aku melihat dari jauh jalur antrian yang dimaksud adalah dua buah palang sejajar sepanjang kurang lebih duapuluh meter kebelakang, lebarnya mungkin cuma dua meter, yang merupakan gate untuk keluar pagar. Tiap gate punya nomor sendiri sendiri. Kami diharapkan mengantri di gate no 7 sesuai nomer mahtab.

Menit demi menit secara berjalan lambat. Seorang Ibu (semoga Allah memberikan pahala yang berlimpah untuknya. Amin) entah dari kloter mana membagikan air panas yang dimasak dengan pemanas air elektrik yang dicolok di toilet.

Alhamdulillah aku kebagian separo gelas. Aku membuat teh manis dan air di gelas kutambah dengan air minumku sendiri. Supaya ready to drink. Aku dan Ayah berbagi satu gelas teh manis. Sungguh saat itu , satu gelas teh manis hangat terasa begitu berharga. Alhamdulilah, Lumayan buat penghangat.

Sebetulnya tidak ada amalan khusus yang dikerjakan saat mabit di musdalifah, kita hanya diminta mengumpulkan batu untuk melempar jumrah. Umumnya kegiatan mabit berikutnya dilewati dengan berdzikir. Tapi sungguh saat itu sudah tak sanggup!!

Aku begitu kedinginan. Aku tak kuasa melakukan apapun. Banyak orang memilih berusaha tidur seperti ayah. Dalam diam aku cuma bisa mengingil kedinginan. Kondisiku saat itu benar benar down, kedinginan dan kurang asupan makanan.

Menit demi menit lewat. Jam demi jam berlalu. Rasanya luaaaama buanget!! Alhamdulillah, akhirnya pukul 11.30 tiba. Kami melihat jamaah berseragam hijau tua dari rombongan KBIH yang satu kloter dengan kami mulai mengantri dipalang yang dimaksud. Kami berberes dan bergegas ikut mengantri.

Jarakku dengan ujung palang paling belakang tidak jauh. Paling lima meter. Aku berhitung, jika kapasitas bis 60 orang, aku estimasikan aku bisa ikut bis ke tiga dan keempat. Sabar Bin..sabar…sebentar lagi..sebentar lagi kita kan terbebas dari dingin yang menyiksa ini.

Jam dua belas bis mulai datang. Aku mulai berharap bisa segera pergi. Namun aku heran, sudah bis keempat, mengapa antrian berjalan begitu lambat ?? Cuma maju semester -dua meter. Lho trus kapan sampainya ini ?? Aku mulai goyah, tak lagi kuat berdiri, Ayah menyuruhku duduk diatas travel bag sambil mengantri.

Dalam duduk diamku, aku mengigil kedinginan. Dalam duduk diamku aku tak putus berdoa…. Ya Allah mengapa begini berat ?? Ya Allah berilah aku kekuatan…Ya Allah berilah aku kemudahan…

Ingin sekali rasanya aku menangis, namun kutahan airmata ku baik baik. Tak seorang pun disitu terlihat mengeluh dan menangis. Aku merasa malu jika menangis. Aku merasa tak pandai bersyukur jika aku sampai menangis....

Gubraaak!! Beberapa meter dibelakangku seorang perempuan pingsan. Begitulah, tak seorang pun mengeluh sampai batas terakhir. Uhm, ingin sekali rasanya keluar dari barisan. Give up!!. Terserah deh mo ke angkut ke mina jam berapa. Tapi melihat panjangnya barisan yang mencapai ratusan meter di belakang, hatiku ciut juga.

Akhirnya aku kembali terbenam dalam kebisuan panjang. Duduk gemetar kedinginan. Ya Allah berilah aku kekuatan… Ya Allah berilah aku kemudahan…

No comments: