Monday, February 12, 2007

Semua lillahi ta’ala...

"ah..aku pindah samping bu Prapto aja ah..." begitu kata seorang perempuan muda, teman serombongan yang pergi berhaji sendiri, saat kami sudah di business class, dalam cabin pesawat.

Hey?! Whats wrong dengan bu Prapto ? sampai harus ditemani ?? Uhm, prihatin lah. Soalnya saat sampai di Jeddah, pak Prapto suaminya justru harus dirawat dirumah sakit. Gulanya yang rata -rata 200, kali itu mencapai 590!! Segeralah pak Prapto (58 th) yang nyaris tak sadarkan diri dilarikan ke rumah sakit di Jeddah. Sebagai istri, bu Prapto ingin tinggal untuk menunggu sang suami, tapi rumah sakit menolak.

Pak Prapto sih jadi tangungan rumah sakit. Gratis. Karena semua jamaah memang dicover asuransi. Tapi bu Prapto tidak bisa tinggal. Beliau harus pulang ketanah air bersama rombongan. Pak Prapto akan disusulkan dengan kloter berikutnya. Dokumen dan passport pak Prapto segera diberikan ke rumah sakit.

Selama di airport, bu Prapto banyak sharing sama diriku. Karena kita duduk berdekatan. Berbagi karpet bersama. Yang heran, bu Prapto bisa bercerita dengan tabah, sedang aku justru berkaca kaca. Duh Ibu ? Hebat bener sih ?? Beliau bisa begitu tabah..

Aku lebih banyak speechless... mendengar riwayat penyakit pak Prapto. Bagaimana ribetnya mengatur pola makan beliau di Mekkah. Bagaimana sulitnya mereka menghadapi sortage food saat di Armina... Waaah..aku tambah berkaca kaca. Aku mengucap banyak syukur- Alhamdulillah- selama ini Ayah baik baik saja. Tidak pernah sakit yang serius.

Ah, Aku benar benar salut dengan ketabahan bu Prapto. Meninggalkan suami jauh dari tanah air, dengan kondisi begitu memprihatinkan bukan hal yang mudah. Bu Prapto bisa begitu kuat karena beliau memasrahkan semua pada Allah. Semua lillahi ta’ala...

Uhm, bu Prapto telah memberiku teladan berharga, bagaimana menyikapi saat suami tercinta-bapak dari buah hati tersayang- terbaring sakit. Setelah usaha sudah diupayakan, hasil akhir hanya pada Allah. Hanya kepada Allah kita berserah diri. Hanya pada Allah kita bertawakal.Semua lillahi ta’ala...

Saat di cabin pesawat. Aku mengeser posisi duduk. Menyender dipundak ayah. Merem. Merasa nyaman. Uhm, aku bersyukur alhamdulillah selama ini Allah memberikan limpahan kesehatan pada suamiku. Justru aku-bunda pujaan hati anak anak ayah (ehm..ehm.. begitu ayah suka bilang)- yang sering sakit dan bolak balik masuk rumah sakit. Namun aku tau, setelah semua usaha di upayakan... aku mengerti Ayah juga memasrahkan hasil akhir pada Allah. Semua lillahi ta’ala...

Ah, andai aku bisa seperti mereka. Seperti bu Prapto. Seperti Ayah. Uhm, aku memang masih harus banyak belajar.

Rombongan kami prihatin. Rombongan kami merasa tidak lengkap tanpa pak Prapto. Sing tabah ya, Bu... cepat sembuh ya, Pak...

Epilog - Kunjungan ke Rumah Sakit

Sebagai sesama karu, Ayah (karu2) dekat dengan pak Prapto (karu1). Makanya saat mendengar pak Prapto dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, begitu sampai di Jakarta sepulang dari tanah suci - kami menengoknya.

Seneng liat pak Prapto sudah bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Walau masih lemas beliau bercerita pengalamannya dirawat di rumah sakit Jeddah. Sendirian. Lack of cash. Lack of cloth. Alhamdulillah pak Prapto bisa melewatinya.

"Aku ki malah bingung..sakwise tekan asrama haji kok anak anak dan semua yang njemput wis podo nangis..apa Bapak udah nggak ada ?? Lho kok malah wis nangis disik...?? yo aku dadi melu nangis tho Mbak..." kata bu Prapto dengan medok. Aku berkaca kaca mendengarnya...

"kabeh tamu sing teko nang omah, akeh.. tur podo nangis tekoke Bapak.. wah.. wah.. aku dadi tambah bingung kae... pokoke prihatin tenan Mbak" Aku berkaca kaca membayangkannya..

Aku dan ayah bertukar pandang. Aku masih berkaca kaca. Well, saat suami atau istri terbaring sakit. Memang bukan hal yang gampang dijalani. Namun jika kita tawakal, memasrahkan semua hasil akhir pada Allah. Apapun itu. Bagaimanapun itu. Insya Allah kita bisa tabah melewatinya..... uhm, I love you honey..

No comments: