Thursday, February 01, 2007

Wukuf di Arafah - Inti Perjalanan Haji

Satu hari setelah Ayah ngantor sepulang haji, seorang teman Ayah bertanya. "Pak Eddy ..apa betul waktu wukuf di Arafah kemarin, ada awan membentuk tulisan Allah diatas langit ??"

"Masa?!!" Ayah balik bertanya “saya kok malah nggak tau, mungkin nggak pas dilangit wilayah tenda kami. Tenda Jamaah Indonesia. Arafah kan luas bu..”

“Oh? Pak Eddy malah nggak tau ?? nanti saya forward filenya deh…banyak di sharing di internet tuh…”

Hari Arafah mempunyai banyak kelebihan sebagaimana yang diriwayatkan di oleh banyak pewari hadist Rasulullah. Salah satu versi dari hadist itu adalah seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, bahwasanya Rasulullah bersabda:

Wukuf yang kamu lakukan pada hari Arafah, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia (paling bawah) dan berbangga-bangga dengan kamu kepada malaikat dengan firmanNya "Hamba-hambaKu datang dari segenap pelusuk dunia yang jauh, dalam keadaan tidak terurus dan berdebu-debu tubuh mereka, semata-mata mengharapkan syurga-Ku.

Jika mereka datang dengan dosa sebanyak bilangan pasir, titisan hujan atau buih di lautan nescaya Aku akan menghapuskan kesemuanya. Allah berfirman : "Keluarlah kamu daripada Arafah dengan dosa yang telah diampunkan daripada kamu dan bagi sesiapa yang kamu meminta ampun untuk mereka."


Begitu pentingnya. Begitu banyak ampunan-Nya. Begitu berharganya momen wukuf di Arafah. Karena inilah inti perjalanan haji sebagaimana Rasulullah juga bersabda “Haji adalah wukuf di Arafah”

Waktu wukuf adalah saat masuk dzuhur sampai dengan masuk waktu magrib. Kegiatan wukuf diawali dengan sholat bersama dua rakaat dzuhur dijama takdim dan di qhasar dengan dua rakaat sholat ashar.

Sholat ini per tenda satu imam. Setelah itu dilanjut dengan khotbah wukuf.Khotbah wukuf tenda kami diberikan oleh bapak kepala kloter.

Khobat wukuf kali itu membuat hatiku haru biru. Air mata mulai mengalir saat khotib kami berucap “saat saat ini..terbayang jelas wajah orang tua kita masing masing.. baik yang masih ada maupun yang sudah meninggal….
saat saat ini marilah kita mendekatkan diri kepada Allah…melalui dzikir, doa dan perenungan….”

Uhm, Air mata mengalir deras saat bayang wajah Bapak dan Mamah hadir jelas di ingatan. Kusadari betapa panjang daftar dosaku kepada mereka. Aku gadis kecil yang nakal. Aku gadis remaja yang sering protes. Aku perempuan muda yang sering membantah...

Dan kini, aku perempuan dewasa yang duduk bersimpuh di Arafah dengan penuh rasa sesal. Meminta ampunan pada Allah, memohonkan kasih sayang Allah dihari tua orangtuaku ....rabbanaghfirlana waliwalidaina warhamhuma kama rabbayana saghira..

Setelah khotbah usai pak kepala kloter mempersilahkan kami untuk beribadah sendiri “lebih baik diluar tenda ya Bapak..Ibu..supaya lebih menghayati makna wukuf…”

Dalam ritual haji, sebetulnya tidak ada amalan amalan khusus yang wajib dilakukan selama wukuf di Arafah. Semua berpulang kepada keinginan masing masing. Sangat personal deh. Aku sih mengacu pada buku panduan doa yang diterbitkan depag dalam mengerjakan amalan amalan disitu.

Seperti halnya teman sekamar aku lalu membaca surat Al-Hajj. Walau bacaan Quranku tak sebagus abang Iqbal, aku membaca surat itu sampai tamat satu surat. Setelah itu banyak banyak dzikir dan berdoa.

Aku menangis dan menangis dalam doa doaku. Aku memohon banyak ampunan-Nya. Aku memohon diberikan sedikit tempat di surga-Nya. Aku memohon banyak rahmat dan hidayah-Nya di dunia. Rabbana atina fid-dun-ya hasanatan wa fil akhirati hasanatan wa qina azaban-nar.

Aku yang sombong, sering lalai dan penuh dosa bersimpuh disitu, dipadang Arafah. Berdoa meminta banyak hal… well, mungkin terlalu banyak hal. Jadi, apapun problemmu…. bisikanlah… Apapun keinginanmu… sampaikanlah… apapun harapan … sebutkanlah… apapun permohonanmu… ucapkanlah… percayalah... saat wukuf di arafah… Allah terasa begitu dekat... you know

Menit berganti jam, hari beranjak sore. Memasuki waktu ashar kami tau waktu wukuf akan segera berakhir. Kalo kami peserta haji mandiri berdoa dan beribadah sendiri sediri, para jamaah KBIH sebagian besar berdoa bersama-sama dengan satu pembimbing.

Hal beginilah yang membuat Ayah nggak sreg. Berdoakan sifatnya pribadi. Berdoa ada hubungan personal antara satu manusia dengan Allah. Rasanya sih lebih afdal jika dilakukan sendiri sendiri.

Sore menjelang senja, matahari beranjak terbenam , kami mulai bersiap. Berkemas. Walau lebih afdal shalat magrib dan Isya dilaksanakan di muzdalifah. Namun konon disana kondisinya tidak memungkinkan. Aku sendiri tidak punya bayangan seperti apa padang muzdalifah itu.

Menurut instruksi pak kepala kloter lebih baik berangkat setelah sholat magrib yang di jama dan qashar dengan isya. Kami mematuhinya.

Pukul tujuh malam kami masuk ke bis yang membawa kami ke muzdalifah, untuk melaksanakan ritual haji berikutnya yaitu mabit di musdalifah. Aku bersyukur Alhamdulillah bisa melewati wukuf dengan baik, aku kurang aware, justru di muzdalifah..ujian yang berat menantiku....

No comments: