Sunday, October 01, 2006

Memplanning Kehidupan

Aku orang yang spontan dan terbiasa dengan kejutan.Tapi tetap saja aku berusaha punya planning.Membuat hidupku lebih mudah dan wellorganize. Makanya aku tetap terkejut saat dokter Bambang menyuruhku langsung opname senin malam minggu lalu itu juga. Padahal agendaku hari itu cuma konsultasi hasil lab untuk persiapan kuret hari rabu.Ugh!! Bubar sudah semua planning untuk menyortir, menisik dan belanja baju koko yang akan dipakai abang sekolah selama ramadhan. Memenuhi jadwal floortime shift I di kantor Bintaro, hadir kuliah hari selasa malam. Semua berantakan!!

"HB ibu cuma 7.3 emang ibu nggak merasa pusing? untuk tindakan paling tidak harus 11. Dibawah itu bisa terjadi shock" Begitu concern ginekologku yang sudah sepuh itu.
Pusing? pusing is my middle name he.he..aku memang sering pusing karena aku tau tekanan darahku rendah, tapi soal HBku rendah aku nggak terlalu ngeh :-) . Well, betul tiga bulan lalu saat aku chek darah untuk pemeriksaan kesehatan haji, dokter puskemas Cilandak yang ditunjuk Depag Jak Sel itu bilang HBku rendah banget -Cuma 8.5...tapi tidak ada follow up apa-apa. Dokter itu tetap menyatakan aku sehat. Jadi kupikir everything fine.

"Setau saya bisa dinaikan dengan obat kan dong? saya pernah dapat sangobion dari GP saat pusing hebat" Aku menceritakan pengalamanku beberapa bulan lalu. Well aku memang nyaris pingsan saat itu.Untung ayah dirumah dan segera membawaku ke dokter 24jam.
"Iya tapi proses untuk naik dari 7 ke 11 lama. Katakanlah 2 minggu, tapi nanti ibu keburu mens. Drop lagi karena bleeding. Dinaikin lagi, butuh 2 minggu lagi, trus mens lagi kan? lalu kapan selesainya? " Dokter kebidanan itu memandangku baik-baik.
"Jadi ? Apa alternatifnya" tanyaku nggak ngerti.
"Transfusi" kata dokter dingin seakan-akan transfusi sama entengnya dengan minum orange juice.Hih!! Aku merinding.
"Bentar saya telp suami saya dulu" pintaku
Ayah memang masih terjebak macet dijalan.Untung sudah dekat dan bisa bergabung diruang dokter. Ayah segera setuju untuk Bunda ditransfusi. Dokter segera membuatkan pengantar untuk rawat inap. Aku opname tanpa persiapan apa apa. Tanpa bawa apa apa. Baju tidur, sikat gigi, sandal, sabun mandi, semua tak ada. semua tak terduga.

Aku menjalani prosedure standard opname. Tensi. Infus. Ambil darah.Aku cuma bisa nyengir pasrah menahan sakit saat lenganku ditusuk.Ugh!! mana ada yang enak?? Ayah pulang mengambil perlengkapan dan menjemput anak anak.

Anak anak akhirnya datang. Memeluk dan mencium membesarkan hati Bunda. Mereka juga kaget Bunda harus opname.Mereka cuma menengok sebentar karena hari sudah larut, besok harus sekolah.Mereka pulang sama Ayah.

Semalam itu, dikamar RSPI yang dingin, sepi dan sendiri aku merenung. Hidup ini memang penuh dengan kejutan.Manusia bisa punya planning tapi Allah yang menentukan.
Terlalu naif menyesali bubarnya semua rencana. Kacaunya semua planning, sebab jika kita mati, tidak ada gunanya planning dan rencana duniawi kita. Jika Aku mati, Aku akan tinggalkan semua urusan kuliah, floortime, suami dan anak-anak.

Kematian pasti datang. kapanpun itu.Tidak pernah terduga karena maut merupakan rahasia Allah yang besar agar kita selalu bersiap...Jadi? sudahkah masing masing kita memplanning, merencanakan bagaimana mencapai kehidupan abadi yang diimpikan diakherat kelak?

Di kamar dingin sepi dan sendiri di RSPI itu akhirnya aku jatuh terlelap dengan sebuah pertanyaan besar untuk diriku sendiri "sudahkah aku?"

No comments: